Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Harga Sapi Jantan Anjlok, Peternak Taro Gianyar Kian Terjepit
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Harga sapi jantan di Desa Taro, Tegallalang, terus merosot dan membuat peternak setempat merana.
Banyak sapi yang telah ditawarkan lebih dari tiga bulan namun tetap sulit terjual, sehingga menimbulkan kekhawatiran serius bagi peternak kecil yang sangat bergantung pada penjualan ternak.
Sejumlah peternak mengaku telah berulang kali menawarkan sapi ke pedagang, tetapi respons yang diterima sangat minim. Salah satunya, I Made Niki, mengatakan sudah berbulan-bulan menunggu pembeli tanpa hasil.
"Belum laku, sulit pembelinya. Tapi tetap tidak ada yang menawarnya," ujarnya.
Di tengah kondisi pasar yang melemah, sebagian peternak bahkan terpaksa membeli rumput untuk memastikan ternaknya tetap terpelihara, meski hal tersebut membuat biaya pemeliharaan semakin membengkak.
Kepala UPTD Puskeswan 3 Gianyar, drh. Arya Dharma, menjelaskan berbagai faktor yang memengaruhi lesunya pasar sapi jantan saat ini.
"Berbagai masalah pasar, menyebabkan sapi Bali siap potong susah terjual," ungkapnya.
Ia memaparkan sejumlah penyebab, mulai dari melemahnya daya beli masyarakat yang menekan permintaan daging sapi, hingga naiknya harga pakan seperti dedak, jagung, dan konsentrat. Kondisi ini membuat pedagang lebih selektif dan hanya membeli sapi yang benar-benar siap potong.
Modal pedagang yang tersendat juga memperparah keadaan, sehingga mereka mengurangi pembelian. Selain itu, ketidaksesuaian bobot atau jenis sapi dengan kebutuhan pasar membuat banyak sapi muda, kurus, atau terlalu tua ditolak.
Pasar lokal juga menghadapi tekanan dari masuknya sapi impor dan daging beku yang dinilai lebih stabil harganya dan memiliki kualitas seragam. Di luar musim puncak seperti Idul Adha, permintaan sapi jantan memang cenderung menurun.
Faktor lain adalah perbedaan harga yang diharapkan peternak dengan tawaran pedagang. Dalam situasi pasar lesu, pedagang enggan menaikkan harga, sementara peternak merasa nilai sapi mereka layak dihargai lebih tinggi. Kondisi fisik sapi, termasuk kesehatan dan bentuk tubuh, juga menjadi penentu laku atau tidaknya ternak.
Situasi ini membuat peternak berada di posisi sulit. Jika menjual terlalu murah, mereka merugi. Namun jika tetap merawat ternak, biaya pakan terus meningkat. Para peternak berharap adanya kebijakan stabilisasi harga, pembatasan impor, dan dukungan pakan terjangkau agar mereka dapat bertahan.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5851 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4604 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2569 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2212 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan