Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




TPST Mengwitani Badung Produksi 17 Ton Kompos per Hari, Diklaim Tanpa Bau

Kamis, 19 Februari 2026, 13:59 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/TPST Mengwitani Badung Produksi 17 Ton Kompos per Hari, Diklaim Tanpa Bau.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Upaya pengolahan sampah menjadi produk bermanfaat terus dilakukan di Kabupaten Badung. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan Pusat Daur Ulang (PDU) Mengwitani telah setahun terakhir mengolah sampah terpilah menjadi kompos dengan memanfaatkan penyemprotan Bio Fighter untuk menghilangkan bau sekaligus mempercepat proses pengomposan.

Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Badung, Anak Agung Gede Dalem, mengatakan pengolahan kompos tersebut sudah berjalan stabil dan bukan lagi tahap percobaan.

Baca juga:
Menko Pangan Tinjau TPST Mengwitani, Dorong Badung Percepat Pengelolaan Sampah Modern

"Kita sudah setahun ini membuat kompos, jadi ini bukan uji coba lagi. Uji coba sudah lewat, kita sudah membuat kompos", ujarnya, Rabu (18/2/2025), di Mengwitani, Kabupaten Badung.

Ia menjelaskan, dari total sampah yang masuk ke TPST dan PDU Mengwitani, sekitar 20 persen diolah menjadi kompos. Saat ini, produksi kompos mencapai sekitar 17 ton setiap hari.

"Kompos ini sekarang sudah 17 ton bisa kita garap setiap hari, atau panennya 20% dari sampah itu akan menjadi kompos", jelasnya.

Menurut Agung Gede Dalem, penggunaan Bio Fighter sangat membantu dalam proses pengolahan sampah organik. Cairan tersebut telah dimanfaatkan sejak awal pengoperasian pengolahan kompos di Mengwi Tani.

"Pemanfaatan Bio factor sebenarnya sudah digunakan sejak awal, setahun yang lalu, sampai saat ini mungkin yang terbaru lah, yang tercocok," ucapnya.

Sementara itu, CEO PT Su.re.co, Prof. Dr. Takama, menyampaikan bahwa penyemprotan Bio Fighter pada sampah terpilah mampu mempercepat proses pembentukan kompos secara signifikan, sekaligus menghilangkan bau dan gangguan lalat.

"Ini ada Bio Fighter, Jadi, tanpa Bio Fighter mungkin, orang bicara 3 sampai 4 bulan membutuhkan waktunya. Sekarang, dua minggu sudah seperti ini. Dan tunggu dua minggu lagi sudah bagus," bebernya.

Ia menambahkan, kompos yang dihasilkan juga memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi. Hasil tersebut telah melalui pengujian bersama Universitas Udayana.

"Dengan Bio Fighter, nutrisinya lebih tinggi juga. Jadi, sudah cek ini sama Universitas Udayana dan ini hampir pupuk. Dan tidak benar-benar bau. Dan tidak ada lalat juga. Jadi, itu efeknya sudah tidak bau," pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami