Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
TPST Mengwitani Badung Produksi 17 Ton Kompos per Hari, Diklaim Tanpa Bau
BERITABALI.COM, BADUNG.
Upaya pengolahan sampah menjadi produk bermanfaat terus dilakukan di Kabupaten Badung. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan Pusat Daur Ulang (PDU) Mengwitani telah setahun terakhir mengolah sampah terpilah menjadi kompos dengan memanfaatkan penyemprotan Bio Fighter untuk menghilangkan bau sekaligus mempercepat proses pengomposan.
Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Badung, Anak Agung Gede Dalem, mengatakan pengolahan kompos tersebut sudah berjalan stabil dan bukan lagi tahap percobaan.
Baca juga:
Menko Pangan Tinjau TPST Mengwitani, Dorong Badung Percepat Pengelolaan Sampah Modern
"Kita sudah setahun ini membuat kompos, jadi ini bukan uji coba lagi. Uji coba sudah lewat, kita sudah membuat kompos", ujarnya, Rabu (18/2/2025), di Mengwitani, Kabupaten Badung.
Ia menjelaskan, dari total sampah yang masuk ke TPST dan PDU Mengwitani, sekitar 20 persen diolah menjadi kompos. Saat ini, produksi kompos mencapai sekitar 17 ton setiap hari.
"Kompos ini sekarang sudah 17 ton bisa kita garap setiap hari, atau panennya 20% dari sampah itu akan menjadi kompos", jelasnya.
Menurut Agung Gede Dalem, penggunaan Bio Fighter sangat membantu dalam proses pengolahan sampah organik. Cairan tersebut telah dimanfaatkan sejak awal pengoperasian pengolahan kompos di Mengwi Tani.
"Pemanfaatan Bio factor sebenarnya sudah digunakan sejak awal, setahun yang lalu, sampai saat ini mungkin yang terbaru lah, yang tercocok," ucapnya.
Sementara itu, CEO PT Su.re.co, Prof. Dr. Takama, menyampaikan bahwa penyemprotan Bio Fighter pada sampah terpilah mampu mempercepat proses pembentukan kompos secara signifikan, sekaligus menghilangkan bau dan gangguan lalat.
"Ini ada Bio Fighter, Jadi, tanpa Bio Fighter mungkin, orang bicara 3 sampai 4 bulan membutuhkan waktunya. Sekarang, dua minggu sudah seperti ini. Dan tunggu dua minggu lagi sudah bagus," bebernya.
Ia menambahkan, kompos yang dihasilkan juga memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi. Hasil tersebut telah melalui pengujian bersama Universitas Udayana.
"Dengan Bio Fighter, nutrisinya lebih tinggi juga. Jadi, sudah cek ini sama Universitas Udayana dan ini hampir pupuk. Dan tidak benar-benar bau. Dan tidak ada lalat juga. Jadi, itu efeknya sudah tidak bau," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5729 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4587 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2545 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2194 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2185 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan