Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Terik di Bali, Masyarakat Diminta Tak Bakar Sampah
BERITABALI.COM, BADUNG.
Cuaca panas terik dalam beberapa hari terakhir melanda wilayah Bali. Kondisi ini disebut merupakan fenomena alam yang terjadi akibat posisi semu matahari.
Prakirawan Cuaca Balai Besar Meteorologi Klimatologi Geofisika (BBMKG) Wilayah III, Putu Pradiatma Wahyudi, menjelaskan bahwa pada bulan Maret, tepatnya 21 Maret, posisi matahari berada di garis Khatulistiwa. Hal ini menyebabkan suhu udara terasa lebih panas, terutama pada siang hari.
Selain itu, minimnya tutupan awan di wilayah Bali membuat sinar matahari langsung mencapai permukaan, sehingga meningkatkan suhu udara yang dirasakan masyarakat.
"Kondisi ini normal dan kerap berulang setiap tahunnya, karena faktor pemanasan permukaan sebagai dampak dari siklus gerak semu matahari", jelasnya, Selasa (14/4/2026) di Badung.
Berdasarkan data monitoring awal musim kemarau 2026 dari Stasiun Klimatologi Bali per 10 April 2026, terpantau beberapa zona musim (ZOM) mulai memasuki musim kemarau.
"Pada, 10 April 2026, terpantau 4 ZOM, indikasi, masuk musim kemarau yaitu ZOM di wilayah Bali bagian selatan, timur, dan Nusa Penida," terangnya.
Wahyudi menyebutkan, kondisi suhu udara yang cukup terik ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
"Ya, dapat berlangsung beberapa hari kedepan, namun dikarenakan saat ini beberapa daerah di Bali belum sepenuhnya masuk ke musim kemarau, sehingga masih terdapat peluang terjadinya hujan ringan hingga sedang secara tidak merata", paparnya.
Ia menambahkan, wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan berada di dataran rendah cenderung merasakan suhu yang lebih panas dibandingkan wilayah dataran tinggi.
"Wilayah Bali yang cakupan penduduknya lebih padat dan berada di dataran rendah lebih merasakan panas daripada wilayah dataran tinggi," ucapnya.
Menghadapi kondisi cuaca panas ini, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dengan memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi. Selain itu, penggunaan pelindung seperti sunblock, jaket, dan topi saat beraktivitas di luar ruangan juga disarankan.
Masyarakat juga diminta untuk tidak sembarangan membakar sampah atau lahan kosong, terutama di kawasan hutan, guna mencegah potensi kebakaran. Pemerintah daerah pun diharapkan dapat melakukan langkah antisipasi seperti penyiraman area rawan guna mengurangi risiko kebakaran akibat cuaca panas.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan