Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Kisah Bau Nyale dan Legenda Putri Mandalika
BERITABALI.COM, NTB.
Bau Nyale adalah upacara menangkap cacing laut yang dilakukan oleh masyarakat Lombok Selatan setiap tahunnya.
Bau artinya menangkap, dan nyale adalah sejenis cacing yang hanya muncul setahun sekali di beberapa lokasi tertentu di pantai selatan Pulau Lombok.
Penduduk setempat mempercayai nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan keburukan bagi orang yang meremehkannya. Upacara Bau Nyale dilakukan pada tanggal 20 bulan ke-10 dan awal tahun Sasak.
Dilansir dari buku 70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia (2019) oleh Fitri Haryani Nasution, dahulu terdapat sebuah kerajaan Seger yang dipimpin oleh raja yang arif dan bijaksana bersama dengan permaisurinya.
Mereka memiliki seorang putri yang cantik jelita. Semasa kecilnya, Sang Putri dijuluki " Tojang Beru" (baru muncul).
Ketika menginjak dewasa, kecantikan Sang Putri begitu mempesona. Namanya pun diubah menjadi Putri Mandalika, yaitu Putri yang memiliki cahaya kejelitaan. Kecantikannya memikat hati banyak pangeran.
Para pangeran itu kemudian melamarnya, namun semuanya ditolak. Karena khawatir jika menerima salah satu lamaran, maka akan menimbulkan persaingan tidak sehat di antara para pangeran dan berakibat peperangan.
Namun, dua orang pangeran sangat bersikeras ingin meminangnya. Mereka mengancam akan menghancurkan kerajaan jika Putri Mandalika tidak menerima pinangannya. Ia pun menjadi gundah dan memohon petunjuk pada Tuhan.
Setelah mendapat petunjuk melalui mimpi, Sang Putri akhirnya memutuskan untuk menceburkan diri ke laut. Sebelum terjun ke laut, Putri Mandalika berseru:
"Wahai ayahanda dan Ibunda serta semua pangeran rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kalian semua. Aku tidak dapat memilih satu di antara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya nyale di permukaan laut".
Putri Mandalika menceburkan diri ke laut pada tanggal 20 bulan ke-10 tahun Sasak.
Sesaat setelah Sang Putri menceburkan diri, muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak, yang kini disebut sebagai nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Mereka menduga bahwa binatang itu adalah jelmaan dari Sang Putri. Lalu beramai-ramai mereka berlomba-lomba mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih.
Masyarakat meyakini apabila nyale keluar banyak menandakan pertanian berhasil. Mereka membuang daun bekas pembungkus nyale ke sawah supaya hasil tanaman padi akan melimpah ruah.
Hingga kini, legenda ini masih hidup di kalangan suku Sasak di Lombok Selatan. Dan kisah Mandalika pun dijadikan sebuah tradisi, yaitu menangkap cacing laut yang banyak terdapat di pantai-pantai tersebut pada bulan-bulan tertentu.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5908 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan