Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Pilkada Langsung Dorong Praktik Korupsi
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Mekanisme pilkada langsung dinilai sebagai salah satu penyebab atas meningkatnya praktik tindak kejahatan korupsi di Tanah Air. Demikian disampaikan Wakil Bendahara Umum DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo, Minggu (7/9/2014). Menurutnya, pilkada langsung memaksa para kandidat harus merogoh kocek lebih besar. Hal itulah yang menyebabkan kepala daerah terjerumus kepada tindak kejahatan korupsi.
"Biaya yang luar biasa besarnya yang harus dikeluarkan para kandidat yang ujung-ujungnya mendorong siapapun pemenangnya melakukan praktik korupsi agar modal kampanye kembali," kata Bambang.
Bambang mengatakan proses kampanye pilkada langsung lebih panjang. Dimana, tahun ketiga sudah disibuki kampanye para kandidat. Misalnya, promosi dan mutasi pejabat selalu dikaitkan dengan dukungan pilkada.
"Good government tak pernah bisa tercapai karena di tiap pilkada para pejabat/PNS akan terbelah menjadi tim sukses masing-masing kandikat. Baik incumbent maupun penantang baru," tegas anggota Komisi III DPR itu.
Diketahui, partai Koalisi Merah Putih selain Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Pesatuan Pembangunan (PPP), disebut ingin kepala daerah dipilih oleh DPRD.
Ada tiga opsi mekanisme pilkada yang dibahas dalam Panja RUU Pilkada. Pertama, pasangan gubernur, wali kota, dan bupati dilipih langsung seperti sekarang. Pendukung opsi ini adalah PDIP, PKS, Hanura, PKB.
Kedua, pasangan gubernur, wali kota, dan bupati dipilih DPRD. Pendukung opsi ini adalah Demokrat, Golkar, PAN, PPP, dan Gerindra. Ketiga, gubernur dipilih langsung, tetapi bupati dan wali kota dipilih DPRD. Pendukung opsi ini adalah DPD.
Pilkada Langsung Lebih Banyak Mudarat dari Manfaat
Partai Golkar yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih mendukung rencana pilkada dipilih DPRD. Sebab, pilkada langsung dinilai lebih banyak mudarat dari manfaatnya.
Bambang Soesatyo mengatakan, partainya sudah sejak lama melakukan kajian soal mekanisme pilkada secara langsung ini.
"Kesimpulan sementara lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya bagi rakyat dan kehidupan yang tentram dalam berbangsa dan bernegara," kata Bambang, di Jakarta, Minggu (7/9/2014).
Bambang mengatakan pilkada langsung kerap menimbulkan pertikaian antarsesama warga. Hal itu yang menjadi pertimbangan Koalisi Merah Putih khususnya Partai Golkar untuk mengembalikan mekanisme pilkada ke DPRD.
"Sudah ribuan pilkada memakan korban anak bangsa. Pertikaian antar pendukung, ras dan suku selalu mewarnai setiap pilkada. Lalu berlanjut di tahapan gugat menggugat juga kerap diwarnai kekerasan," tegas Bambang.
Koalisi Merah Putih selain Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Pesatuan Pembangunan (PPP), disebut ingin kepala daerah dipilih oleh DPRD.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5904 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4629 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2239 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan