Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 30 Oktober 2026
Revitalisasi Pelabuhan Tua Buleleng Dimulai, Klenteng Ling Gwan Kiong Jadi Pemantik
BERITABALI.COM, BULELENG.
Kawasan Pelabuhan Tua Buleleng bersiap memasuki babak baru revitalisasi menyusul peresmian kembali Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Ling Gwan Kiong, Jumat (8/8/2025).
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengungkapkan rencana penataan menyeluruh kawasan heritage ini senilai Rp25 miliar yang akan dimulai Februari 2026. Penataan ini dilakukan menyusul selesainya restorasi klenteng bersejarah berusia lebih dari satu setengah abad tersebut.
"Kita akan tata kawasan dari Titik Nol, Jalan Diponegoro, hingga Pelabuhan Buleleng untuk mengembalikan citra kawasan heritage tanpa menghapus jejak sejarah," ungkap Sutjidra usai peresmian.
Revitalisasi mencakup penataan tepian Sungai Buleleng, tamanisasi, serta restorasi Museum Sunda Kecil dan bangunan kolonial yang masih tersisa. Pelabuhan alam terbaik kedua setelah Sabang ini, menurutnya, akan dikembalikan sebagai living museum yang merekam jejak zaman VOC, era kemerdekaan, hingga kontemporer.
Bupati Sutjidra menekankan sinergi antara restorasi klenteng dan revitalisasi pelabuhan. Keberhasilan pemugaran klenteng oleh umat Tri Dharma menjadi inspirasi bagi pemerintah. Filosofi “menata tanpa menghapus sejarah” akan diterapkan secara konsisten.
“Termasuk penyediaan CCTV dan penataan keamanan kawasan yang merupakan bagian dari komitmen menciptakan lingkungan nyaman bagi wisatawan,” ujarnya.
Revitalisasi ini juga untuk menyiapkan Buleleng menyambut 12.000 wisatawan Taipei per tahun melalui paket charter flight mulai Februari 2026. Pelabuhan Tua dan klenteng akan menjadi magnet utama dalam paket wisata 3 hari 2 malam,
“Bersama atraksi lumba-lumba Lovina, Kota Tua Singaraja, dan Puri Buleleng," papar Sutjidra.
TITD Ling Gwan Kiong menjadi bagian vital dari kebangkitan Kawasan Pelabuhan Tua Buleleng. Ketua TITD Wira Sanjaya membeberkan proses restorasi selama 18 bulan dengan dana Rp3,4 miliar. Sebanyak 88 persen di antaranya berasal dari sumbangan umat dan simpatisan.
"Kami mengganti 90 persen struktur kecuali tembok lama. Atap, pilar soko guru, hingga ornamen menggunakan kayu merbau asal Papua untuk mempertahankan filosofi material alam," jelasnya.
Teknologi digital diterapkan pada lukisan dinding Samkok yang dipindai ulang dan dicetak di keramik untuk memastikan preservasi jangka panjang.
Langkah revitalisasi ini menjadi penanda dimulainya era baru di mana warisan sejarah tak sekadar dilestarikan, tapi dihidupkan sebagai nadi ekonomi dan kebanggaan kolektif masyarakat Buleleng.
Editor: Redaksi
Reporter: Humas Buleleng
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6005 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4687 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2663 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2327 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2241 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan