Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
Ritual Memanggil Hujan Kembali Marak di Zimbabwe
Akibat Kemarau yang Berkepanjangan
Jumat, 23 Desember 2016,
17:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, Zimunta. Di bawah terik sinar matahari, sejumlah lelaki berkumpul untuk menyanyi, bersiul, dan melolong di bawah pepohonan kerontang tanpa daun di sebuah pinggiran desa Zimbabwe timur.
Mereka tengah melakukan aktivitas memanggil hujan.
BACA JUGA:
"Kita harus kembali pada tradisi lama untuk mengatasi kekeringan," kata Nekias Mukwindiza, seorang kakek tua yang telah berusia 80 tahun.
Dulu keluarga Mukwindiza adalah pawang hujan pada 1940. Sekarang dia yakin tradisi lama itu bisa menjadi solusi bagi fenomena kekeringan di Zimbabwe yang semakin memburuk.
"Saya tahu karena saya sering ikut dalam ritual pemanggilan hujan. Dulu, ritual ini berhasil," katanya, seperti dilaporkan Reuters.
Menurut beberapa ilmuwan, kembali tradisi itu adalah bukti dari tidak adanya cara efektif untuk mengatasi kemarau panjang.
Para ilmuwan itu berpendapat bahwa Zimbabwe seharusnya tidak lagi bercocok tanam jagung dan mengubahnya dengan tanaman yang lebih tahan kering seperti jawawut dan gandum. Zimbabwe juga harus mulai menyimpan air saat hujan datang.
"Kita harus melatih para tetua desa mengenai pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim seperti pertanian yang berkanjutan dan teknik penyimpanan air," kata Lawrence Nyagwande, kepala organisasi sipil Environment Africa.
Ritual memanggil hujan sebagai cara untuk mengatasi kemarau yang berkepanjangan justru membuat para petani tidak responsif dalam beradaptasi dan mengubah cara tanam mereka, kata dia.
Para pendukung ritual memanggil hujan mengakui bahwa cuaca di Zimbabwe pada beberapa waktu terakhir adalah fenomena yang belum pernah mereka saksikan --temperatur yang sangat panas dan hujan yang tidak tentu.
Mukwindiza percaya bahwa cuaca panas itu adalah hukuman dari Tuhan karena telah meninggalkan kepercayaan lama.
"Selama lebih dari satu dekade kami tidak pernah melakukan acara ini. Tuhan marah kepada kami," katanya.
Desa-desa meninggalkan praktik tersebut akibat perselisihan soal siapa yang harus memimpin ritual. Namun di tengah kelangkaan air, mereka kini terpaksa meninggalkan perbedaan dan bersama-sama meminta hujan.
Menurut beberapa pakar, kekeringan, yang membuat warga Zimbabwe bergantung pada bantuan asing untuk makanan, berhubungan erat dengan perubahan iklim. Namun para tetua adat belum percaya.
BACA JUGA:
"Jika kita kembali ke nilai-nilai dan kepercayaan tradisional, semua akan berubah menjadi lebih baik. HHujan akan datang dengan deras," ujar Mukwindiza dengan raut penuh keyakinan. [tar/ikh]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026