Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Sampah Jadi Solusi Ekonomi di Saat Resesi
BERITABALI.COM, KLUNGKUNG.
Di tengah isu Indonesia akan menuju resesi ekonomi seperti yang dinyatakan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani pada Bulan Oktober ini, tentu menjadi satu hal yang mencengangkan bagi setiap orang.
Namun, di tengah resesi ada alternatif ekonomi yang bisa dilakukan oleh masyarakat, salah satunya dengan memanfaatkan sampah mulai dari menjadikan pupuk, maggot, Lmol dan briket yang bernilai ekonomi. Pupuk bisa dipergunakan untuk pertanian, magot untuk pakan ternak dan Lmol untuk pembersih.
Hal ini terungkap dalam acara Sosialisasi dan Edukasi Pengelolaan Sampah berkelanjutan yang dilaksanakan Sabtu, (3/10/2020) di Batan Sabo Desa Sakti, Nusa Penida, Klungkung. Pembicara sekaligus Pengembang alat Si Otong berupa tong sampah yang bisa untuk menghancurkan sampah sekaligus menghasilkan maggot, pupuk dan Lmol, Ida Bagus Aditya mengatakan tidak saja masalah sampah ditangani dengan baik, tetapi sampah bisa bisa meminimalkan dampak ekonomi yang lagi resesi karena pandemic Covid 19.
Acara yang diadakan atas prakarsa Universitas Warmadewa, Rotary Club, Si Otonk & PKM Sampah Nusa Penida dengan inisiator Pande Bagus Gde Guna Sesana ini bertujuan sampah tidak dianggap masalah, karena bila sampah dikelola dengan baik bisa menjadi berkah.
“Kegiatan ini bermula dari diskusi kecil dengan seorang teman di Warmadewa, tujuannya agar bisa menyelesaikan sampah dari hulu sampai ke hilir dan ternyata tidak saja itu ternyata sampah bisa menjadi solusi ekonomi di saat resesi ekonomi sekarang ini,” kata Yan Guna.
Menariknya selain disimulasikan penggunaan tong serba guna yang dinamai Si Otonk ada juga berbagai pengalaman dari Komang Bemo dari Komunitas Malu Dong pengelola Sampah di Kelan Denpasar. Ia mengatakan permasalahan sampah terbesar ada pada kesadaran masyarakat, utamanya saat di awal pemilahan sampah.
"Awal mula kami melakukan pengelolaan sampah di Kelan masalah yang paling sulit adalah kesadaran masyarakat terkait pemilihan sampah. Kita harus sabar, tetapi kalau sudah mentok terpaksa harus penegakan aturan adat berupa perarem adat agar masyarakat disiplin,” kata pria yang biasa dipanggil Mang Bemo ini.
Sementara itu beberapa peserta antusias menanyakan tentang pengelolaan sampah dengan tong serba guna ini. Misalnya Kepala Desa Terpilih Ketut Sulatra mengungkapkan merasa tertantang untuk bisa merealisasikan itu di desanya.
Reporter: bbn/klk
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2614 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan