Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Raja Tabanan Jadi 'Pengusir' Hama Tikus

Penebel

Selasa, 15 Juli 2008, 23:12 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, TABANAN.

Setelah turun di subak kubon tingguh, kecamatan Tabanan, giliran subak Blatung, Kecamatan Penebel akan dikunjungi Raja Tabanan yang telah dinobatkan menjadi "Abiseka Ratu". Kedatangan Raja Tabanan terkait dengan upacara "nangluk merana" ( mengusir hama) tikus yang mengganas di beberapa kecamatan seperti Penebel,Tabanan,dan Marga.



Hal itu diungkapkan oleh salah satu anggota subak di Blatung, Penebel, Selasa (15/7). "Ratu Cokorda Cokorda Tabanan X (Raja) akan turun ke subak kami tanggal 25 Juli mendatang," jelas salah satu petani setempat.

Di wilayah subaknya, hama tikus mengganas. Mereka nyaris gagal panen musim ini karena serangan "jero ketut" (tikus) kian tak terkendali.

Sementara itu, Minggu (13/7) Upacara "Nangluk Merana" yang dilaksanakan warga Subak Kubon Tingguh, Kecamatan Tabanan digelar sejak pagi hari. Dengan menggunakan sarana tandu khusus, Ida Cokorda Anglurah Tabanan yang baru saja dinobatkan sebagai Cokorda Tabanan X diusung dan diarak keliling areal persawahan di Wilayah Desa Adat Kubon Tingguh sekitar 5 km dari Pusat Kota Tabanan.



Sebelum mengelilingi subak, Ida Cokorda Tabanan bersama seluruh Krama Adat Kubon Tingguh melakukan persembahyangan di Pura Kahyangan desa adat setempat yang melibatkan semua prajuru adat,pekaseh, dan karma (warga) subak, serta Bendesa Adat.



Setelah persembahyangan memohon berkah dan keselamatan dari gangguan hama selesai dilakukan, diiringi gamelan baleganjur, Ida Cokorda-pun diarak memulai pelaksanaan ritual yang dipercayai secara turun temurun oleh karma subak di Tabanan sebagai sarana ampuh disamping obat-obatan pembasmi serangga.

Sambil diarak dan dituntun dengan lembaran kain putih keliling persawahan, Ida Cokorda tak henti-hentinya memercikkan air suci (tirta, red) yang diperoleh dengan cara memohon di Pura Kahyangan Adat setempat.

Percikan air suci diyakini dapat mengusir hama tikus kembali ke tempatnya dan tidak melakukan pengrusakan lagi.

Tiga hari seusai digelarnya upacara nangluk merana itu, hama tikus semakin berkurang dan tikus sudah mulai menghilang dari areal subak. Seperti yang diakui oleh Bendesa Adat Kebon Tingguh, Agung Mastika, Selasa.

"Pada tahun 1960 desa kami pernah melakukan hal serupa dan terbukti mampu mengusir "jero ketut" (tikus)," ungkapnya. (nod)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rob



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami