Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Isi Liburan, Siswa Masuk Pasraman Kilat
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Liburan panjang yang baru saja dimulai rupanya tidak disia-siakan oleh ratusan siswa di Jembrana untuk memantapkan penghayatan nilai-nilai agama. Mereka memilih untuk mengikuti pasraman kilat yang digelar Kantor Departemen Agama (Kandepag) Jembrana.
Dari data yang dihimpun Beritabali.com, Selasa (16/6), pasraman kilat yang diperuntukkan khusus untuk siswa yang beragama Hindu, terbagi dalam 3 kelompok usia, yaitu usia SD, SMP dan SMA/K dengan total peserta sebanyak 560 orang. Kegiatan pasraman kilat ini akan disebar kepada belasan sekolah di seluruh Jembrana.
Menurut I Nengah Artana, ketua panitia pasraman kilat, dalam kegiatan yang akan berlangsung selama 3 hari ini, para siswa akan mendalami pendidikan dan pengetahuan keagamaan yang diselingi dengan praktek langsung, baik dalam menyanyikan lagu-lagu suci, membuat sarana upakara maupun prosesi upacara. “Sehingga antara teori dan praktek bisa diseimbangkan,” kata Artana.
Sementara itu Kepala Kandepag, Gusti Komang Sumberjana mengatakan tujuan utama digelarnya pasraman kilat agar generasi muda mampu melaksanakan kerangka dasar agama Hindu di lingkungan keluarga maupun masyarakat yang lebih luas. (dey)
Reporter: bbn/sin
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3884 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2822 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2038 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1986 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1804 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun