Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
400 Anjing Positif Rabies
Beritabali.com, Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Hingga Oktober 2010, Dinas Peternakan Bali mencatat 400 ekor di seluruh Bali positif terjangkit rabies. Mayoritas anjing yang terjangkit rabies itu berasal dari kawasan Buleleng dan Karangasem.
Kepala Dinas Peternakan Bali Putu Sumantra mengatakan, Disnak Bali telah mengambil sampel otak anjing secara acak dari 3.500 anjing. Setelah diperiksa di Balai Veteriner Denpasar, ternyata 400 ekor diantaranya positif terserang virus rabies.
Menurut Sumantra, anjing yang terjangkit rabies itu ditemukan di empat kabupaten berbeda. Kabupaten itu antara lain Badung, Karangasem, Tabanan, dan Buleleng. "Jumlah paling banyak memang Karangasem dan Buleleng," ujar Sumantra, Sabtu (23/10).
Banyaknya anjing liar yang terjangkit rabies di dua daerah itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, di kedua daerah tersebut banyak ditemukan kawasan perbukitan. Kawasan ini ideal bagi anjing liar untuk bersembunyi dari kejaran tim vaksinasi dan tim eleminasi.
Sumantra pun mengakui bahwa hasil kerja timnya masih belum maksimal di dua kabupaten itu. "Tim kami cukup kesulitan melakukan vaksinasi ataupun eleminasi di daerah tersebut. Banyak anjing yang lari bersembunyi di perbukitan," paparnya.
Disinggung proses vaksinasi, Sumantra mengatakan, hingga saat ini sudah melakukan vaksinasi terhadap 260.000 ekor anjing. Sebanyak 115.000 diantaranya sudah mendapatkan vaksin booster (lanjutan).
"Sementara ini kami perkirakan populasi anjing di Bali mencapai 450.000 ekor. Sekitar 60% diantaranya sudah divaksin. Data itu belum termasuk yang sudah divaksin di dokter hewan swasta," katanya lagi.
Sumantra menjelaskan, saat ini Disnak Bali sudah mulai mengubah pola penanganan rabies di sektor hulu. Jika sebelumnya Disnak memilih melakukan eleminasi, kini Disnak mulai bergeser untuk melakukan vaksinasi massal terhadap hewan penyebar rabies (HPR) seperti anjing dan kucing.
"Setelah dua tahun, polanya memang harus dirubah. Tetap kami lakukan eleminasi, tapi kami lakukan secara selektif. Eleminasi hanya kami lakukan di daerah merah terhadap HPR yang kami duga terjangkit rabies," tandasnya. (eps)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2806 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2031 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1976 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun