Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 13 September 2026
Harga Gemitir Anjlok, Pemuda Rantauan Ini Bantu Petani Lewat posting_bkan Instagram
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Baru tadi, Sabtu (1/4) pagi membagikan posting_bkan bunga gemitir gratis, akun instagram atas nama @lotoxmiarta mengaku kebanjiran pelanggan.
Di akunnya itu, pria bernama asli Wayan Miarta (26) menggambarkan kondisi petani gemitir di desanya, yang berlokasi di Sulangai, Petang, Badung, Bali. Digambarkannya, akibat over suplly, petani gemitir di desanya merugi. Sebab, gemitir yang biasa dijual Rp 20.000 per kg anjlok menjadi Rp 3.000 per kg.
Akibat kondisi ini, tadi pagi Miarta pun menggunggah posting_bkan berisikan kampanye sosial membantu petani gemitir. posting_bkan tersebut berisikan pembagian gemitir gratis. Berikut posting_bkannya:
Menurut Miata, ketimbang gemitir tersebut rugi dan tak mendapat pembeli, lebih baik jika bermanfaat bagi sesama temannya untuk hari raya.
[pilihan-redaksi]
"Petani di desa saya memikirkan hari raya sudah dekat dan bunga pasti akan jadi kebutuhan. Maka beramai-ramailah petani menanam bunga gemitir," jelasnya ketika dihubungi Beritabali.com, Sabtu (1/4).
Tidak dibarengi pengetahuan mumpuni mengenai mekanisme pasar, petani pun merugi. Sebab, pasokan gemitir menjadi berlebih sementara permintaan tak sebanding. Alhasil, bunga dibeli dengan harga yang terbilang sangat murah, hanya 3.000 per kg dari harga biasanya kisaran 20.000/kg.
Jadilah, Miarta pagi tadi menggunggah gambar di instragram dengan keterangan foto bagi bunga gemitir gratis. Ia mengakui, awalnya Ia hanya ingin membantu petani di desanya.
"Dari pada bunga busuk dan tidak dipakai jadi lebih baik saya bagikan gratis," imbuhnya.
Namun, Miarta mendapat respon melebihi ekpektasi awalnya. Sebelumnya, Ia telah menyiapkan 50 kg gemitir gratis dengan biaya pembelian ke petani yang berasal dari kantongnya sendiri. Jumlah permintaan yang banyak ini pun akhirnya menjadikan Miarta mengubah sistem, yang dari awalnya sebagai penyalur gemitir, menjadi penghubung antara calon pembeli dengan petani.
"Harga bunga tidak dipatok, tergantung dari donasi yang diberikan pembeli," imbuhnya.
Miarta, yang juga berprofesi sebagai Marketing Manager di Jakarta ini mengungkap kegalauannya dengan fungsi sosial media yang terkadang beralih dan minim manfaat.
"Saya sendiri ingin memberi manfaat kepada orang-orang di rumah, apalagi pekerjaan saya berhubungan. Petani idak memiliki kemampuan pemasaran lewat sosial media," ungkapnya. [wrt]
Reporter: -
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3366 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 1447 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 801 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan