Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 12 Juni 2026
Harga Gemitir Anjlok, Pemuda Rantauan Ini Bantu Petani Lewat posting_bkan Instagram
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Baru tadi, Sabtu (1/4) pagi membagikan posting_bkan bunga gemitir gratis, akun instagram atas nama @lotoxmiarta mengaku kebanjiran pelanggan.
Di akunnya itu, pria bernama asli Wayan Miarta (26) menggambarkan kondisi petani gemitir di desanya, yang berlokasi di Sulangai, Petang, Badung, Bali. Digambarkannya, akibat over suplly, petani gemitir di desanya merugi. Sebab, gemitir yang biasa dijual Rp 20.000 per kg anjlok menjadi Rp 3.000 per kg.
Akibat kondisi ini, tadi pagi Miarta pun menggunggah posting_bkan berisikan kampanye sosial membantu petani gemitir. posting_bkan tersebut berisikan pembagian gemitir gratis. Berikut posting_bkannya:
Menurut Miata, ketimbang gemitir tersebut rugi dan tak mendapat pembeli, lebih baik jika bermanfaat bagi sesama temannya untuk hari raya.
[pilihan-redaksi]
"Petani di desa saya memikirkan hari raya sudah dekat dan bunga pasti akan jadi kebutuhan. Maka beramai-ramailah petani menanam bunga gemitir," jelasnya ketika dihubungi Beritabali.com, Sabtu (1/4).
Tidak dibarengi pengetahuan mumpuni mengenai mekanisme pasar, petani pun merugi. Sebab, pasokan gemitir menjadi berlebih sementara permintaan tak sebanding. Alhasil, bunga dibeli dengan harga yang terbilang sangat murah, hanya 3.000 per kg dari harga biasanya kisaran 20.000/kg.
Jadilah, Miarta pagi tadi menggunggah gambar di instragram dengan keterangan foto bagi bunga gemitir gratis. Ia mengakui, awalnya Ia hanya ingin membantu petani di desanya.
"Dari pada bunga busuk dan tidak dipakai jadi lebih baik saya bagikan gratis," imbuhnya.
Namun, Miarta mendapat respon melebihi ekpektasi awalnya. Sebelumnya, Ia telah menyiapkan 50 kg gemitir gratis dengan biaya pembelian ke petani yang berasal dari kantongnya sendiri. Jumlah permintaan yang banyak ini pun akhirnya menjadikan Miarta mengubah sistem, yang dari awalnya sebagai penyalur gemitir, menjadi penghubung antara calon pembeli dengan petani.
"Harga bunga tidak dipatok, tergantung dari donasi yang diberikan pembeli," imbuhnya.
Miarta, yang juga berprofesi sebagai Marketing Manager di Jakarta ini mengungkap kegalauannya dengan fungsi sosial media yang terkadang beralih dan minim manfaat.
"Saya sendiri ingin memberi manfaat kepada orang-orang di rumah, apalagi pekerjaan saya berhubungan. Petani idak memiliki kemampuan pemasaran lewat sosial media," ungkapnya. [wrt]
Reporter: -
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli