Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
Potensi Bisnis Karang Hias Hasil Budidaya Mencapai Rp 40 Miliar Per Bulan
Selasa, 28 Mei 2019,
08:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Ahli transplantasi terumbu karang yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Bali, Ir Nengah Manu Mudita, mengatakan potensi bisnis terumbu karang hias hasil transplantasi atau budidaya di Bali sangat besar yakni mencapai puluhan miliar rupiah per bulan. Meski mempunyai potensi besar, namun bisnis budidaya terumbu karang hias ini belum bisa digarap secara maksimal.
[pilihan-redaksi]
"Sangat besar potensinya, 80 persen suplai karang hias dunia berasal dari Indonesia. Dari tahun 2.000 semenjak ditemukan tehniknya, maka sudah mulai bergeser ke terumbu karang hasil transplantasi atau budidaya, sudah tidak lagi mengambil dari alam," ujarnya di Denpasar, Senin (27/5/2019).
Kedepan, Kata Manu, dengan teknik transplantasi terumbu karang ini, diharapkan seluruh terumbu karang hias yang akan diekspor ke luar negeri adalah terumbu karang hias hasil budidaya atau transplantasi.
"Sesuai dengan ketentuan pemerintah, investasi terumbu karang dari alam sudah tertutup, namun terumbu karang hasil budidaya masih terbuka. Indonesia sangat terkenal dengan terumbu karang hiasnya. Austaralia juga kirim (ekspor), tapi jenisnya tidak seperti Indonesia," jelas pria pemegang hak paten teknik transplantasi terumbu karang ini.
Terumbu karang hias hasil transplantasi dari Bali, selama ini sudah dikirim ke berbagai negara di benua Asia, Eropa, Amerika, hingga ke China. Ekspor terumbu karang hias hasil budidaya atau transplantasi ini, menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir yang ada di Bali.
"Terumbu karang Indoenesia sudah terkenal. Potensi pasarnya besar, orang lain tidak punya, sekarang bagaimana caranya mengelola agar potensi ini bisa berlanjutan. Dengan metode budidaya berkelanjutan diharapkan bisnis ini juga bisa berkelanjutan, juga berkelanjutan dalam perbaikan lingkungan laut," ujarnya.
Dengan adanya inovasi transplantasi terumbu karang, kata Manu Mudita, sudah ada peraturan tentang pengiriman terumbu karang hasil budidaya yang hasilnya bisa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

[pilihan-redaksi2]
"Jangan sampai peluang ini nanti diambil oleh negara lain, karena kita sudah punya hak paten transplantasi terumbu karang. Budidaya terumbu karang hasil transplantasi juga sudah berkembang di beberapa pantai di Bali seperti di Serangan, Candidasa, Tembok, Nusa Penida, Gilimanuk, Sumberkima, Patas, dan Les. Selain untuk bisnis, usaha ini juga sekaligus untuk memperbaiki lingkungan. Siapa yang bisa melakukan konservasi jika tidak ada uang?. Jadi kita jual sebagian, dan sebagian lagi untuk upaya konservasi," ujarnya.
Potensi bisnis terumbu karang hias sebulannya di wilayah Bali dan Banyuwangi, kata Manu, mencapai Rp 40 miliar. Harga terumbu karang hias tergantung jenisnya mulai Rp 40 ribu hingga Rp 100 ribu per potongnya. Ada sekitar 40 jenis terumbu karang hias dengan masa panen mulai 16 bulan sampai 3 tahun tergantung dari jenisnya.
"Karang hias ini adalah hobi, bukan industri. Terumbu karang yang ada di laut dan menjadi gulma atau hama, itu bisa kita jadi bernilai jika kita tata dengan baik, tapi itu kan ongkosnya mahal. Jadi upaya konservasi itu juga perlu diimbangi dengan adanya pemasukan bagi masyarakat pesisir," ujarnya. [bbn/psk]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5900 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4628 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2238 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026