Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 12 September 2026
Desa Budakeling Buktikan Mampu Lakukan Regenerasi Kesenian Gambuh
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Desa Budakeling di pinggang Gunung Agung tidak hanya menyimpan lontar-lontar tua tentang ajaran kehidupan. Desa Budakeling juga mampu melakukan regenerasi sehingga lahir talenta-talenta seniman berbakat yang kaya akan keluhuran budi. Hingga tak heran bila regenerasi kesenian Gambuh dapat tumbuh subur di sini.
[pilihan-redaksi]
Bukti regenarasi itu terlihat saat pementasan kesenian Gambuh Anak-anak di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019 pada Sabtu (29/6). Talenta-talenta muda dan anak-anak berbakat terlihat sudah mulai matang dan nyaris matang saat memerankan tokoh-tokoh utama dalam pementasan Gambuh di kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar.
Olah vocal, gerak tari dan penguasaan arena serta memainkan karakter tokoh, seolah bukan lagi masalah bagi talenta-talenta muda ini. Hal itu semua bukan hasil kerja membalikkan tangan dalam semalam.
“Sebaliknya kami telah mengawalinya sejak setahun lalu. Kami ajarkan tentang tari, tabuh, vocal, penghayatan peran dan semuanya,” terang koordinator pementasan, Ida Wayan Oka Adnyana dari dusun Triwangsa, Desa Budakeling, kecamatan Bebandem, Karangasem.
Menurut Oka Adnyana, persiapan panjang mereka lakukan karena Gambuh itu drama tari yang memperhatikan bahasa, ucapan dalam bahasa Kawi yang semua itu cukup berat bagi sebagian besar orang apalagi anak-anak. Alasan itu pula mengapa penggarapan Gambuh anak-anak ini mulai digarap jauh-jauh hari sejak setahun lalu setiap Sabtu malam dan Minggu pagi di Pesraman Bajra Jnana, desa Budakeling.
”Tiap minggu kami kumpulkan, kami latih, selama setahun prosesnya sampai sekarang,” jelas Oka Adnyana.
Selama proses latihan ini tidak sekedar belajar vocal, tari, tabuh melainkan yang utama adalah menanamkan watak dan kecintaan pada leluhur.
“Kami dari awal itu merubah watak anak-anak dari pesraman setiap minggu pagi nika . Pertama tiang ajarkan sastra. Sastra bali, membaca tulisan, menulis Bali. Kemudian ada juga pelajaran dharma gita yang ada petuah-petuah itu dan langsung dipraktekkan. Kalau begini-begini ini akibatnya. Mungkin sedikit demi sedikit orang tuanya merasakan ada perubahan, jadi rajin bantu orang tua, rajin belajar,” papar Oka Adnyana yang tekun bersama masyarakat desa Budakeling menjaga dan melestarikan Gambuh melalui regenerasi pemain-pemain Gambuh secara bertahap dan berkelanjutan turun-temurun.
Keberhasilan regenerasi Gambuh tak lepas lingkungan desa Budakeling yang kuat dibidang nyastra dan berkesenian. Sehingga Gambuh sebagai ‘induk’ kesenian di Bali menjadi keseharian di desa Budakeling.
“Diluar anak-anak juga ada gambuh tua, gambuh dewasa, karena ini turun-temurun,” ucap Oka Adnyana yang dalam membina anak-anak selalu menekankan kecintaan pada budaya. (bbn/ananta/mul)
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3326 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 792 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 735 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan