Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Wedakarna : Perbedaan Antara Sarwa Sedaka dan Tri Sedaka Itu Masih Ada
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Terkait pernyataannya tentang gelar "Surya" dan persaingan sulinggih di Bali yang menjadi polemik dan dianggap memprovokasi, Arya Wedakarna (AWK) memberikan klarifikasi.
"Terus terang saja perbedaan pandangan antara Sarwa Sedaka dan Tri Sedaka itu masih ada, dan rakyat kecil masih takut menyuarakan. Sebagai Ksatria tentu harus membela para Sulinggihnya, termasuk mensejajarkan kesulinggihan di semua tingkatan," sebutnya saat memberi klarifikasi kepada Beritabali.com.
Tri Sedaka adalah pendeta Hindu dari Warga Brahmana Siwa (Pedanda Siwa), Warga Brahmana Bhoda (Pedanda Bhoda) serta dari Warga Bhujangga Waisnawa (Jero Gede). Sementara Sarwa Sedaka, yaitu pandita atau pendeta Hindu dari berbagai kelompok warga yang ada di Bali
Terkait polemik penyebutan "Surya" untuk kelompok tertentu di Bali, menurutnya, penyebutan "Surya" adalah hanya untuk para Dwijati, bukan untuk Walaka (warga biasa), karena di Hindu hanya dikenal dengan sistem "Warna".
"Bagi kami gelar "Surya" itu khusus bagi Brahmana Embas apapun sorohnya," ujarnya.
Secara internal sebagai Penglingsir Tegeh Kori, pihaknya selalu menyebut para Pandita sulinggih dengan Surya.
"Jadi jelas gelar “Surya” bukan monopoli satu kelompok. Intinya tidak boleh ada yang memonopoli kebenaran di Bali," tandasnya.
Pernyataan Wedakarna yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat tersebut disampaikan saat ia diundang oleh Griya Bhujangga untuk memberi Dharma Wacana dan itu disampaikan di hadapan para pemangku Hindu se-Bali.
Apa yang disampaikan, menurut Senator Bali kontroversial ini, dinilai sebagai sesuatu yang biasa saja dan apa adanya. Ia menegaskan memang ada yang perlu diluruskan agar tidak ada persepsi yang keliru terhadap posisi kesulinggihan di Bali.
Terkait pernyataannya yang menuai pro dan kontra ini, Arya Wedakarna didesak untuk minta maaf kepada para sulinggih dari soroh atau kelompok tertentu. Salah satu warga Bali yakni Ida Bagus Kade Perdana menyebut pernyataan Wedakarna ngawur, arogan dan provokatif.
Ketua Umum Puskor Hindunesia, Ida Bagus Susena, mendesak kepada Arya Wedakarna untuk memelihara persatuan Hindu Bali dan berpegang pada etika dan penghormatan kepada sulinggih Hindu di Bali.
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3879 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2459 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2013 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1939 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1795 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun