Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Penyerapan Gabah di Mengwi Masih Tetap Bagus

Kamis, 25 Maret 2021, 23:30 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Meskipun di tengah pandemi, peyerapan gabah dinilai masih bagus khususnya di daerah Mengwi Kabupaten Badung. Untuk sekali panen 2 kali setahun total penyerapan mampu dicapai kurang lebih 1.000 ton dengan jenis varietas padi tergolong bagus.

"Untuk sekali panen penyerapan kurang lebih mencapai 1.000 ton bisa didapat. Untuk panen raya sekali saja misalnya, bulan 3 dan 4 sedangkan panen ke 2 di bulan 9,10 dan bulan 11  tersebut harga pasti tinggi dan petani pasti merasa senang saat masuk dibulan-bulan tersebut," jelas salah satu pemilik penyosohan Gabah bernama Purnama Sari di Desa Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Rai Sujaya saat di temui di Koplek Pergdang Bulog Sempidi,Kecamatan Mengwi, Badung, beberapa hari lalu Selasa, (23/3).

Penyerapan dari total jumlah gabah tersebut diserap dari beberapa petani di subak di daerah Mengui Selatan. "Sebagian saya beli mulai di daerah Subak Ayung, Munggu dan Subak Jepagi Let atau di seputaran Mengwi selatan. Dengan jenis padi rata-rata Ciherang dan Cigeulis saja dengan kualitas sudah tergolong bagus," ujarnya.

Disebutkan untuk harga gabah kering panen diambil langsung di sawah harganya dikisaran Rp 4.300 belum termasuk ongkos ke pengilingan. Jadi, untuk di Badung sampai saat ini harga Gabah paling rendah Rp 4.300 di Sawah.

"Saya sebagai pelaku langsung membeli padi ke para petani dan membeli gabah juga kepada penebas. Jadi, bisa dikatakan semua pengilingan yang ada di Kabupaten Badung khususnya semua mengabil gabah sehargaRp 4.300 di sawah," bebernya.

Dalam kondisi saat ini dirinya mengatakan, hanya terjadi lambat panen saja menyebabkan rata-rata padi sampai tua-tua dipanen oleh para petani di Badung khususnya. Hal tersebut disebabkan karena, faktor cuaca tidak menentu saat ini.

"Sorenya hujan, yang membuat tenaga yang bekerja di sawah hanya bisa bekerja setengah hari saja. Biasanya 1 hektar dapat diselesaikan selama 2 hari.Akan tetapi, karena faktor cuaca akhirnya baru selesai 3 sampai 4 hari saja jadi molor waktunya," katanya.

Selain terkendala cuaca dan pemasaran, menurut Sujaya juga sedikit mengalami penurunan dibanding sebelum Pandemi penurunan mencapai 40 persen. Penurunan tersebut tentu disebabkan karena, kondisi ekonomi masyarakat belum normal dan karena, industri pariwisata yang masih sepi dan terpuruk.

"Karena orang-orang datang ke Bali sedikit saat ini yang menyebabkan orang makan ikut sedikit atau menurun juga," tutupnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami