Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Air Subak Dinilai Sakral, Semestinya Tidak Diperbolehkan Membuang Kotoran
BERITABALI.COM, TABANAN.
Museum Subak di Sanggulan, Tabanan menggelar acara seminar dengan topik sakralisasi air dalam subak pada Senin (24/5).
Acara ini digelar untuk mengajak masyarakat memahami bagaimana sulitnya menjaga kelestarian air di kawasan subak. Selain itu, banyak faktor yang mengancam keberadaan air subak, salah satunya sampah dan kemarau.
Kepala UPTD Museum Subak, Tabanan, Ida Ayu Pawitrani mengatakan, sesuai lontar, air subak sangat sakral, semestinya tidak diperbolehkan membuang kotoran apapun.
"Jangankan disalurkan air, di genangan air juga tidak boleh ada kotoran, namun akibat globalisasi jadi kurang sakral," terangnya.
Nilai kesakralan air subak, lanjut kata Pawitrani hanya terlihat ketika ada upacara saja, namun kondisi yang ada saat ini banyak saluran irigasi dipenuhi sampah.
"lewat program rutin museum ini kami coba bangkitkan lagi betapa berharganya air dan sakralnya air serta pentingnya menjaga ketersediaan air untuk keberlangsungan hidup masyarakat," ujarnya.
Acara itu mengundang perwakilan Pekaseh di wilayah Kabupaten Tabanan diharapkan ke depan tahu bagaimana memperlakukan air dan pentingnya kebersihan di saluran irigasi.
"Kalau irigasi penuh dengan sampah siapa yang mau lihat, apalagi Bali khususnya Tabanan bertumpu pada pariwisata,"jelasnya.
Kadis kebudayaan I Gusti Ngurah Supanji mengatakan, seminar tentang nilai nilai budaya lokal semacam ini rutin digelar Museum Subak Sanggulan hampir tiap tahun dengan topik berbeda. Dimana hasil dari pertemuan ini akan dituangkan dalam bentuk buku yang akan dijadikan acuan atau panduan bagi Pemerintah Daerah untuk pembangunan sektor pertanian, apalagi saat ini tengah disusun RPJMD termasuk restra Disbud 2021-2026.
"Kegiatan ini selaras dengan visi misi Bupati Tabanan dan Gubernur Bali terkait dengan pembangunan semesta Bali berlandaskan nilai-nilai lokal Bali," terangnya.
Seorang pembicara, I Wayan Suardiana dalam pemaparannya menyampaikan air sangat dibutuhkan oleh semua makhluk dan tumbuhan. Kenyataannya hutan tempat menyimpan resapan air di Bali tidak memperoleh perlindungan baik dari segi regulasi maupun perilaku anarkis masyarakatnya.
Terkait dengan pemuliaan air yang demikian kuat sebagaimana tampak dalam teks religius dan fungsional yang telah diwariskan oleh leluhur Bali dikatakan pula, tidak mendapat perhatian serius oleh generasi penerusnya. Menurutnya, eksistensi air akan tetap lestari sesuai dengan alamatnya jika Sad Kertih di Bali juga terjaga secara baik.
Reporter: bbn/tab
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5932 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan