Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Bendesa Kerap Absen di Kegiatan Adat, Belasan Krama Desa Batuagung Datangi Kantor Perbekel
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Belasan Krama Adat Desa Batuagung, Kecamatan Jembrana Jumat (04/06/2021) mendatangi kantor Perbekel setempat.
Kedatangan krama tersebut untuk mempertanyakan soal empon-emponan (tanggung jawab) di Pura Amertasari Kelurahan Loloan Timur yang ditinggalkan begitu saja.
Dari pantauan beritajembrana.com, Warga krama adat Desa Batuagung diterima langsung Perbekel I Nyoman Sudarma, perwakilan BPD serta Sekdes Batuagung.
Kedatangan Mereka guna menyampaikan unek-unek dan kekesalannya terhadap sejumlah persoalan mengenai kegiatan, baik soal pujawali, paruman, rapat panitia, termasuk klian pengempon serta panitia karya agung ngenteg linggih di pura tersebut, bendesa tak pernah datang.
Bahkan Bendesa Batuagung selaku penyeledi, dipercaya mewakili krama di sembilan banjar adat, selalu tidak hadir. Mengenai urusan kegiatan di pura yang berstatus Pura Dang Kahyangan tersebut, sejak berakhirnya karya ngenteg linggih selesai tahun 2019 lalu, Bendesa selalu menghindari pertemuan dengan pengempon.
Ida Bagus Awangga mengungkapkan, bendesa bahkan diundang dalam berbagai hal kegiatan tentang pura terletak di lingkungan Mertasari Desa Lokasari, yang bersangkutan tak pernah hadir.
"Demikian pula ketika diundang resmi dalam forum rapat dengan pengempon di Pura Mertasari, bahkan pernah Bendesa menolak undangan yang dilayangkan pengempon," tandasnya.
Awangga menambahkan, dampak ketidak harmonisan bendesa dengan pengempon pun, berkembang di masyarakat. Menurut Awangga, Bendesa menyatakan tidak ngempon, melainkan cukup dari rumah. Hanya dengan nyiwi, membuat krama Batuagung menjadi resah.
Jika benar sampai emponan di Mertasari dilepas, kemana lagi krama Batuagung yang mencapai 2.200 KK akan 'ngempon' Pura yang sudah menjadi 'tegen tegenan' tanggung jawab sekala niskala krama adat Desa Batuagung. Sejak pisah ngempon di Pura Dang kahyangan Perancak, Desa Perancak sekitar 2010 lalu.
"Kenapa Pura Mertasari yang dianggap menjadi tanam tuwuh, tempat menggantungkan kehidupan tatanan berkrama dengan urusan Parahyangan, apa akan dilepaskan begitu saja karena sikap bendesa yang tidak mencerminkan tugas kebendesaan sekaligus pengayoman terhadap krama khusunya di Batuagung," tandasnya.
Selain soal emponan, krama lainnya Wayan Suentra, IB Siwa mempertayakan pedruwen adat berupa tanah Pura Tri Kahyangan desa, Pura Taman, Prajapati dan Setra belum bersertifikat, padahal sudah 13 tahun lebih menjabat Bendesa.
Terkait hal tersebut, Perbekel Batuagung I Nyoman Sudarma berjanji memfasilitasi persoalan adat yang disampaikan krama.
"Nanti tiang catat dan pelajari dulu melalui sekdes dan akan menyampaikan persoalan yang sudah disampaikan krama ke Bendesa," tutup Sudarma.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5934 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2618 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2274 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan