Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Pakan Monyet di DTW Kurang Saat Pandemi, Ini Saran Akademisi

Senin, 14 Februari 2022, 09:45 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Pakan Monyet di DTW Kurang Saat Pandemi, Ini Saran Akademisi.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Sepinya kunjungan objek wisata yang memiliki satwa liar berupa monyet seperti di Sangeh, Uluwatu, Alas Kedaton s
ecara tidak langsung kondisi berdampak ke pendapatan manajeman pengelola.

Yang akhirnya akan berimbas ke dana penyediaan pakan bagi monyet-monyet tersebut karena ketersedian dana pakan sebagian besar memang bersumber dari donasi pengunjung, 

Hal itu disampaikan, Dekan Fakultas Kedokteran hewan Universitas Udayana yang juga salah satu dokter hewan tergabung dalam  Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bali, Prof. Dr. drh. I Nyoman Suartha. Msi .

"Jika ada pengunjung pasti ada donasinya. Selanjutnya dana donasi tersebut dibelikan makan untuk monyet oleh pengelola. Nah, saat kondisi Pandemi seperti saat ini, tentu sangat kasihan seperti di Sangeh, Uluwatu maupun Alas Kedaton karena, akan sedikit kesulitan mencarikan dana untuk pakan monyet-monyet tersebut," jelasnya, belum lama ini di Denpasar.

Jika Monyet tidak dapat makanan bagus dan kurang pastinya monyet-monyet tersebut akan menjadi hama di lingkungan sekitar serta akan dapat merusak tentunya.

"Monyet kalau kekurangan makan pasti akan liar. Ya, memang cendrung akan merusak nantinya," katanya.

Dalam menghadapi kondisi tersebut menurutnya, sementara para pengelola dapat menjaga pohon di sekitar habitanya agar tetap lestari. Karena, monyet-monyet sangat suka memakan pucuk-pucuk pohon jenis apa saja. Sehingga, dengan tetap terjaganya pohon-pohon di habitatnya tentu ketersedian pakan monyet sementara waktu dapat terpenuhi.

"Solusi sementara saat ini ya, menjaga hutan serta perbanyak jenis tanaman-tanaman, terutama yang banyak berpotensi tumbuh pucuk-pucuk. Karena, pucuk-pucuk daun sangat disukai monyet untuk dimakan. Jangan sesekali mengajarkan monyet makanan yang aneh-aneh seperti, coklat, roti maupun jenis makanan lain selain makanan alami yang ada di habitat aslinya karena, hal tersebut akan mebuat habitat monyet berubah, tentu ini nantinya penyebab monyet akan menjadi galak jika ada pengunjung," paparnya. 

Selain itu, dalam menekan populasi monyet agar sedikit menurun maka, monyet-monyet jantan dapat di vasektomi. Dengan cara tersebut setidaknya akan mampu mengontrol jumlah populasi monyet. Sehingga, daya dukung lingkungan sekitar masih dapat mendukungnya.

"Kontrol dari 2006 kami (Team alumni Kedoterean Hewan Unud-rd) telah rutin mengunjungi serta dari segi pengabdian memberikan sumbangan makanan juga. Yang awal tim kami turun di daerah Padang Tegal, Ubud dan di Uluwatu diminta pengelola setempat karena sempat saat itu ada monyet memang sangat membutuhkan penanganan medis," cetusnya. 

Dirinya berharap, selain melakukan upaya-upaya tersebut jika kondisi pariwisata serta kunjungan wisatawan normal kembali, ia mengusulkan manejeman pengelola nantinya sedikit demi sedikit mampu menyisihkan sebagian dana dari distribusi tiket masuk.

Khususnya untuk dialokasikan ke penyediaan pakan bagi moyet-monyet agar dalam kondisi darurat, dana tersebut dapat dipakai sementara untuk penyediaan stok makan monyet-monyet tersebut. 

Dalam pengelolaan dana dari tiket masuk setidaknya dapat disisihkan sedikit untuk berjaga-jaga jika kedepan kondisi yang sama terulang kembali.

"Harapannya dengan begitu pengelola bisa menyisihkan sebagai tabungan yang tidak terduga untuk makan monyet-monyet tersebut," pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami