Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 12 September 2026
Puluhan Anak Muntah Diare di Pering Gianyar, Petugas Cek Air Diduga Kena Kuman
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Gerubuk muntah dan diare menyerang puluhan anak usia 1-4 tahun di Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh.
Anak yang sakit jumlahnya sedikit demi sedikit kini mencapai 86 orang. Petugas terkait langsung turun tangan dengan mengecek kandungan air. Diduga, air tercemar bakteri ecoli atau kuman.
Plt. Dinas Kesehata Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni, mengaku, petugas dinas sedang melakukan pengambilan sampel air. “Sudah dua pekan kami tangani,” ujarnya, Jumat (4/2).
Dari pendataan, ada 86 kasus di wilayah Pering yang terjadi Februari 2023 lalu. Pihaknya menemukan kasus paling banyak ditemukan pada kelompok umur 1-4 tahun sebanyak 32 kasus (37,2 persen). Dan dari kelompok 5-9 tahun 13 kasus (15,1 persen).
Baca juga:
Wagub Bali dan Istri Kompak Diare
Kondisi ini diperkirakan meluas. Sebab awal Maret, penelusuran sejumlah anak-anak di Banjar Banda, Kecamatan Blahbatuh juga mengalami gejala serupa. Bahkan ada yang harus opname di sejumlah rumah sakit. Namun laporan terkait kasus tersebut belum diterima oleh dinkes.
Ariyuni menjelaskan, terkait kasus di Pering, masyarakat yang mengkonsumi air minum dari sumber mata air wilayah itu yang tidak dimasak lebih beresiko terkena diare.
“Berdasarkan gejala klinis dan masa inkubasi, dugaan sementara kasus itu disebabkan oleh bakteri phatogen (e.coli, Campylobacter Enteritis, red) yang mencemari sumber mata air yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan masak dan minum tiap hari,” jelasnya.
Sejumlah upaya dilakukan oleh dinas kesehatan. Yakni, pengambilan sampel air dari rumah tangga. Rectal swab pada penderita yang belum mendapatkan antibiotik. Sosialisasi PHBS. Memperkuat jejaring suveilans di faskes. Pemenuhan obat. Dan pemberdayaan TP.PKK dalam pembinaan keluarga dan pemantauan kasus.
Ariyuni mengaku penyebab tercemarnya mata air umum dan terbuka bisa banyak mulai dari kotoran binatang, bakteri karena air dalam kondisi terbuka.
Untuk mengantisipasi gejala makin meluas, masyarakat harus memastikan air itu aman sebagai air minum atau konsumsi.
“Harus dimasak sebelum digunakan, karena mata air terbuka memang sangat riskan. Bisa saja dicek sekarang terlihat aman tapi besok lusa bisa tercemar atau sekarang bisa terlihat tercemar tapi nanti bisa bersih,” tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3326 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 792 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 731 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan