Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Militer Ukraina: Tentara Rusia Bukan Manusia
BERITABALI.COM, DUNIA.
Juru bicara militer Ukraina Sarah Ashton-Cirillo mencemooh Rusia dengan menyebut prajurit militer negara musuhnya itu 'bukan manusia'.
Dalam sebuah klip 21 detik yang diunggah di X (nama baru Twitter) pada Sabtu (5/8), Ashton-Cirillo mulanya bertanya soal perbedaan antara pasukan Ukraina dan Rusia.
Dia bertanya demikian sambil berdiri di depan standee atau potongan karton berbentuk tentara yang mengenakan seragam militer Kremlin.
Dia lalu menunjuk standee tersebut dan mengatakan, "Kami adalah manusia dan orang-orang itu sudah pasti bukan (manusia)," katanya, seperti dikutip Russia Today (RT), Selasa (8/8).
Ashton-Cirillo memaparkan perbedaan itu mudah terlihat karena Ukraina yang selama ini "berjuang untuk kebebasan", sementara Rusia "berjuang untuk tirani dan kediktatoran."
Setelah mengunggah video tersebut, sejumlah warganet pun menyerbu dia dengan mengatakan bahwa yang dilakukan jubir transgender itu "sangat tidak menyenangkan" dan "benar-benar menjijikkan".
Netizen lain juga ada yang mengaitkannya dengan peristiwa di masa lalu kala Nazi Jerman dan Rusia berperang. Dia menyebut bahwa Nazi dulu tidak berakhir baik pada 1940-an usai memandang orang Rusia sebagai non-manusia.
Seolah tak peduli, pada Minggu 6/8), mantan reporter itu kembali merilis klip terpisah yang mengejek tentara Kremlin saat Hari Pasukan Terjun Payung Rusia. Dia menggantung terbalik tentara karton tersebut sambil mengatakan bahwa dia merayakan hari peringatan yang jatuh pada 2 Agustus itu.
Pernyataan Ashton-Cirillo ini muncul usai serangkaian pernyataan serupa dilontarkan oleh para pejabat Ukraina.
Salah satunya oleh Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Aleksey Danilov yang mengatakan pada pekan lalu bahwa Rusia adalah "orang Asia" dan bahwa perbedaan utama antara mereka dengan Ukraina adalah "kemanusiaan."
Rusia selama ini menyuarakan kemarahan atas Russophobia yang merajalela di Ukraina, dengan alasan bahwa Kyiv sudah menjadikan hal itu sebagai kebijakan yang disetujui negara.
Sejak invasi pecah 2022 lalu, Ukraina memang mengeluarkan undang-undang yang sangat membatasi penggunaan bahasa Rusia, baik dalam pendidikan, media, hingga kehidupan sehari-hari.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5917 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2607 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2262 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan