Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 12 September 2026
AS Sanksi Rusia Imbas Deportasi Anak-Anak Ukraina
BERITABALI.COM, DUNIA.
Amerika Serikat (AS) mengenakan sanksi baru terhadap para pejabat dan kelompok Rusia pada Kamis (24/8). Sanksi dijatuhkan buntut pemindahan paksa ribuan anak-anak Ukraina sejak invasi Moskow.
Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield mengumumkan langkah tersebut saat memimpin sidang Dewan Keamanan yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Ukraina.
"Kampanye kekejaman Rusia terus berlanjut hingga hari ini," ujar Thomas-Greenfield, seperti dikutip AFP.
"Amerika Serikat tidak akan tinggal diam ketika Rusia melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan," sambungnya.
Sanksi itu menjatuhkan sanksi terhadap 11 orang Rusia, termasuk sejumlah komisaris regional "hak-hak anak", memblokir aset apa pun di AS dan menjadikan transaksi dengan mereka sebagai kejahatan di Negeri Paman Sam.
Sanksi tersebut juga menyasar "kamp musim panas" Artek di Krimea, yang direbut Rusia dari Ukraina pada 2014 dan dianeksasi dalam sebuah tindakan yang tidak diakui secara internasional. Selain itu, ada dugaan kamp pendidikan ulang untuk anak-anak di Chechnya.
Kementerian Luar Negeri AS juga akan membatasi visa bagi tiga warga Rusia yang terlibat dalam pemindahan paksa anak-anak di wilayah Ukraina yang berada di bawah kendali Moskow.
Pengadilan Kriminal Internasional merujuk pemindahan anak-anak ketika mengeluarkan surat perintah penangkapan pada Maret lalu untuk Presiden Rusia Vladimir Putin.
Rusia telah mengecam tuduhan tersebut dan menjatuhkan sanksinya sendiri terhadap jaksa pengadilan yang bermarkas di Den Haag.
Pihak berwenang Rusia mengatakan mereka menempatkan anak-anak dari daerah yang dilanda konflik ke panti asuhan di daerah yang aman.
Namun para pejabat Ukraina dan kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa Rusia telah mendeportasi ribuan anak-anak, termasuk bayi, yang bertentangan dengan keinginan keluarga mereka dalam upaya untuk mencuci otak mereka. Bagi anak-anak yang lebih besar, Rusia memasukkan mereka ke dalam pelatihan militer.
"Anda akan mendengar para pejabat Rusia mengatakan pemindahan anak-anak mereka adalah bagian dari 'evakuasi kemanusiaan'. Tapi ini adalah penyimpangan nyata dari kenyataan, dan upaya sia-sia untuk membenarkan hal yang tidak bisa dibenarkan," terang Thomas-Greenfield.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3326 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 792 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 735 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan