Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
BPBD Jabar Ungkap Kerusakan Besar Akibat Tornado Bandung
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat merilis kerusakan akibat angin tornado atau puting beliung yang menerpa kawasan Kabupaten Bandung dan Sumedang, yang terjadi pada Rabu (21/2) sore.
Dari hasil pendataan, untuk di wilayah Kabupaten Bandung, ada tiga wilayah yang terdampak angin puting beliung, meliputi Kecamatan Cicalengka, Kecamatan Cileunyi dan Kecamatan Rancaekek.
Sementara di Kabupaten Sumedang ada dua kecamatan terdampak, diantaranya Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Cimanggung.
"Untuk di Kabupaten Sumedang, 13 unit bangunan pabrik terdampak dan 10 rumah warga mengalami rusak sedang. Sementara di Kabupaten Bandung ada empat pabrik terdampak, 47 rumah rusak ringan, 13 rusak sedang dan 26 rumah warga rusak berat," kata Humas BPBD Jabar Hadi Rahmat, saat dikonfirmasi, Kamis (22/2).
Untuk wilayah Kabupaten Sumedang, warga yang terdampak masih dalam pendataan. Namun BPBD mencatat di Kabupaten Sumedang Jabar ada 12 orang mengalami luka-luka.
Sementara untuk di Kabupaten Bandung, korban luka sebanyak 19 orang. Mereka mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Cicalengka dan RSKK.
"Jiwa terdampak masih dalam pendataan dan validasi," katanya.
Angin tornado alias puting beliung terjadi di Jatinangor atau daerah perbatasan Kabupaten Bandung dan Sumedang, Jawa Barat, Rabu (21/2) sore.
Angin puting beliung terjadi di wilayah Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang sekitar jam 16.00 WIB. Kejadian ini menyebabkan sejumlah kerusakan, di antaranya atap beberapa rumah di Jatinangor berterbangan; dan merobohkan pagar PT Kahatex yang berada di kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Deputi Bidang meteorologi BMKG Guswanto menyebut hujan ekstrem terjadi di sekitar wilayah Jatinangor menurut pantauan radar.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat Rakhmat Prasetia menyebut sejumlah faktor menjadi dalang di balik cuaca ekstrem ini, di antaranya kondisi suhu muka laut sekitar wilayah Indonesia.
"Suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia relatif hangat, mendukung penambahan suplai uap air ke wilayah Indonesia termasuk wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, selaras dengan kelembapan udara di lapisan 850-500 mb yang relatif basah yakni antara 45-95 persen," ujar Rakhmat.
Selain itu, Rakhmat menyebut sirkulasi siklonik di Samudera Hindia barat Pulau Sumatera mengakibatkan terbentuknya area netral poin dengan area pertemuan dan perlambatan angin (konvergensi) serta belokan angin (shearline) berada di sekitar wilayah Jawa Barat.
Kondisi ini disebut mampu meningkatkan pertumbuhan awan di sekitar wilayah konvergensi dan belokan angin tersebut.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5902 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4628 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2239 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan