Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kajian Sastra dan Kosmologi Menegaskan Tawur Kasanga saat Tilem, Esoknya Hari Nyepi

Selasa, 13 Januari 2026, 11:08 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Kajian Sastra dan Kosmologi Menegaskan Tawur Kasanga saat Tilem, Esoknya Hari Nyepi.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Kajian akademik terkait wariga dan kosmologi mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) PHDI Pusat yang digelar di Bali. Diskusi ini dinilai penting dan fundamental karena menghadirkan para akademisi yang merupakan pakar di bidang wariga, filologi, dan kosmologi Hindu.

FGD yang dilaksanakan di kampus Universitas Hindu Indonesia, Minggu (11/1/2026), menghadirkan akademisi muda IAHN Mpu Kuturan, Dr. I Made Gami Sandi Untara, yang mengulas secara mendalam aspek kosmologi dalam penetapan Hari Suci Nyepi.

“Nyepi adalah peristiwa kosmologis. Tilem merupakan puncak pengembalian keseimbangan semesta melalui Tawur, lalu pada tahun baru umat memulai siklus baru dengan hening,” katanya.

Gami menjelaskan bahwa Nyepi tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari rangkaian kosmis yang utuh. Tilem menjadi fase puncak pengembalian keseimbangan alam, saat unsur-unsur bhta dikembalikan ke asalnya melalui Tawur Kesanga sebagai kerja kosmik. Setelah proses tersebut rampung, barulah keesokan harinya umat memasuki Tahun Baru Saka dengan melaksanakan Nyepi sebagai awal siklus baru yang dijalani dalam keheningan dan kesadaran jernih.

Menanggapi argumen yang kerap merujuk pada Lontar Sundarigama, Gami menegaskan lontar tidak dapat dibaca secara mandiri dan sepotong-sepotong. Dalam tradisi keilmuan Hindu, terdapat disiplin filologi yang menekankan pembacaan naskah secara komparatif dengan menelusuri varian teks, konteks penulisan, serta babon rujukan.

Dalam konteks Nyepi, Negara Kertagama juga disebut sebagai rujukan penting yang menegaskan pemisahan jelas antara fase pralina dan wiwitan. Berdasarkan keseluruhan rujukan tersebut, praktik Nyepi yang dijalankan umat Hindu Bali saat ini dinilai telah sesuai dengan kosmologi, wariga, dan nalar tattwa warisan leluhur.

“Tidaklah mungkin sebuah tradisi besar dan kuat seperti Nyepi dapat berdiri di atas kutipan sepotong dari sebuah versi lontar saja,” tegasnya.

Gami bahkan menyebut perubahan tegak Nyepi yang pernah dilakukan pada tahun 1960 sebagai kekeliruan dalam memahami teks lontar. Kekeliruan tersebut, menurutnya, telah dikoreksi oleh para wikan sehingga umat Hindu Bali kini mewarisi tradisi Nyepi yang tepat dan sesuai sastra seperti yang dijalankan saat ini.

Sementara itu, pengkaji lontar dari Unit Lontar Universitas Udayana, Ida Bagus Anom Wisnu, menyampaikan bahwa pelaksanaan Tawur dan Nyepi sesungguhnya telah jelas dinarasikan dalam berbagai pustaka lontar. Lontar Sundarigama, misalnya, menjelaskan Tawur dilaksanakan pada paruh gelap ke-15 (caturdai ka paka), sedangkan Nyepi pada paruh terang pertama bulan Waiaka.

Ia mengakui, dalam salah satu versi naskah Sundarigama, pembacaan secara heuristik dapat menimbulkan tafsir seolah Tawur jatuh pada Prawani. Namun, melalui pembacaan hermeneutik, pelaksanaan Tawur dan Caru dinilai sudah tepat seperti yang dijalankan saat ini.

Anom Wisnu juga menegaskan bahwa Sundarigama bukanlah naskah tunggal. Berbagai versi dan varian tersebar di seluruh Bali, baik di lembaga formal seperti Gedong Kirtya, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Unit Lontar Universitas Udayana, maupun koleksi pribadi di gria, puri, dan jero. Karena itu, Sundarigama perlu terus dikaji melalui pendekatan filologis untuk menghasilkan edisi kritik, suntingan, dan terjemahan teks yang lebih komprehensif.

Selain Sundarigama, naskah lain seperti Gama Tiga, Aji Swamandala, dan Siwa Tatwa Purana juga mengonfirmasi pelaksanaan Tawur pada Tilem dan Nyepi pada keesokan harinya. Hal ini menunjukkan bahwa satu naskah tidak dapat dianggap memiliki otoritas lebih tinggi dibanding naskah lainnya.

Berdasarkan kajian yang mengemuka dalam FGD tersebut, Sabha Pandita PHDI Pusat secara bulat menetapkan bahwa tradisi yang berjalan saat ini telah tepat, sesuai sastra, kosmologi, dan tradisi kuno umat Hindu di Bali.

“Kita dapat secara bulat menetapkan bahwa Tawur jatuh pada Tilem Sasih Kesanga, dan Hari Suci Nyepi dilaksanakan keesokan harinya,” demikian pernyataan Dharma Adhyaksa PHDI Pusat Ida Pedanda Gde Bang Buruan Manuaba sekaligus menutup FGD.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami