Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
Perayaan Imlek di Griya Kongco Dwipayana, Makna Tahun Kuda Api Menggema
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Ratusan umat datang silih berganti melaksanakan persembahyangan di Griya Kongco Dwipayana, Jalan Tanah Kilap, Desa Pemogan, Denpasar. Persembahyangan dilakukan dalam rangka Tahun Baru Imlek 2577, Selasa (17/2).
Keberagaman umat Hindu dan etnis Tionghoa tampak kental di sejumlah area kongco. Busana, sarana upakara, hingga cara berdoa beragam sesuai keyakinan, dengan dominasi warna merah. Ada umat mengenakan pakaian adat Bali, sementara lainnya mengenakan busana serba merah.
Baca juga:
Gong Bali Iringi Imlek di Klenteng Singaraja
Sebagian umat membawa banten maupun canang sebagaimana persembahyangan di pura, sementara yang lain membawa dupa. Tata cara sembahyang pun beragam, ada yang berdoa secara Hindu menggunakan bunga, ada pula yang menggunakan hio atau dupa. Usai sembahyang, umat diperciki tirta oleh pemangku dan menerima bija beras berwarna kuning.
Pemangku di Kongco Dwipayana, Ida Bagus Adnyana, menyampaikan bahwa persembahyangan bersama telah dilakukan sejak pukul 00.00 Wita untuk melepas tahun lama dan membuka tahun baru. Persembahyangan bersama berakhir pukul 02.00 Wita dan dilanjutkan dengan persembahyangan masing-masing umat. Ia menyebut terdapat 31 titik persembahyangan di kongco tersebut.
"Tahun Baru Imlek ini kita membuka lembaran baru. Persembahyangan ini berlangsung hingga tengah malam nanti. Umat yang datang dari segala penjuru," katanya.
Memasuki tahun kuda api, ia berharap umat mampu memanfaatkan peluang yang ada dengan bijak. "Berpacu dengan waktu. Namun kalau salah, bisa membuat hancur, harus hati-hati juga," pesannya.
Ia juga berharap tahun ini menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Nuansa merah yang mendominasi kongco disebut sebagai lambang kecerahan.
"Kecerahan merupakan simbol sejahtera dan bahagia karena sejahtera memberikan kebahagiaan. Omong kosong jika tanpa kesejahteraan akan bahagia," katanya.
Selain persembahyangan, perayaan Imlek di tempat ini juga diisi dengan hiburan kesenian, mulai dari barongsai hingga kesenian Bali.
"Tadi malam hampir seimbang antara etnis Tionghoa dan Bali, di Bali kan kepercayaannya Siwa Budha. Jadi antara pura dengan klenteng ada kemiripan, kebersamaan," katanya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/maw
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3783 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1724 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang