Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Subsidi BBM Bagaikan Kanker Ganas
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Jumlah subsidi BBM yang dianggarkan dalam APBN sudah cukup besar dibandingkan komponen pengeluaran APBN yang lain. Bahkan cenderung mengalami peningkatan. Bagaimana solusinya?
Ekonom, Faisal Basri menyebutkan secara tegas, subsidi BBM sudah merongrong APBN. Ddalam sebelas tahun terakhir ini subsidi BBM bahkan lebih besar dari defisit APBN. "Solusi subsidi BBM bak kanker ganas, sudah menekan APBN bahkan menyebar ke berbagai arah," katanya dalam diskusi “Subsidi BBM, Solusi atau Masalah” yang diadakan Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP), Minggu (7/9/2014).
Saat ini alokasi budget untuk infrastruktur, belanja pendidikan dan kesehatan sudah lebih sedikit. Hal ini bila dibandingkan dengan alokasi subsidi BBM.
Selama ini defisit APBN ditutup utang. Jika sebagian besar belanja APBN berasal dari utang, hal ini berarti subsidi BBM sesungguhnya berasal dari utang.
Selama ini BBM memiskinkan adalah mitos. Jumlah orang miskin di Indonesia sebagian besar adalah penduduk desa, hanya satu pertiga penduduk yang tinggal di perkotaan.
Penduduk desa sangat ditentukan oleh konsumsi atas beras. Yang akan membuat orang miskin lebih banyak adalah apabila harga beras naiknya signifikan.
“Buat kelas menengah yang selama ini berkoar-koar menolak kenaikan harga BBM, sebenarnya mereka itu merugi. Artinya jika BBM bersubsidi naik jumlahnya, defisit APBN naik, surat utang lebih banyak dikeluarkan, dan suku bunga naik.
"Akibatnya cicilan semua naik. Selain itu, BBM juga menekan rupiah. Kelas menengah kan banyak mengonsumsi barang impor, akibatnya harga-harga kamera, gadget, laptop semua naik. Lah, kan malah rugi mereka,” kata pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia ini.
Sementara itu, Wijayanto Samirin, tim ekonomi Jokowi-JK, mengatakan, APBN saat ini seperti bom besar yang siap meledak. “Ukurannya sangat besar tapi tidak ada dampak untuk masyarakat. Ini yang harus direformasi dengan mengurangi subsidi,” tegas Wijayanto.
"Pemerintah selama ini hanya memikirkan cara untuk survive, tapi hal tersebut tidak ada dampak berarti di masyarakat. Pak Jokowi-JK siap tidak popular karena kenaikan harga BBM ini."
Joko Anwar memaparkan, jadi saat ini membutuhkan kesadaran kolektif masyarakat tentang fakta-fakta BBM. Semua masyarakat mengetahui angka-angka dibalik subsidi BBM. Joko mengharapkan masyarakat akan memahami realitas di lapangan menunjukkan peningkatan konsumsi BBM bersubsidi.
Namun tidak secara signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, harga BBM bersubsidi yang terlampau murah menjadi salah satu sebab utama inefisiensi konsumsi BBM.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5902 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4629 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2239 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan