Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Apa Risikonya Menjadi Seorang Lesbian?
Seksologi dr. Oka Negara, FIAS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Tanya : “Dok, aku pernah beberapa kali pacaran dengan cowok, tetapi kok aku tidak menikmatinya, termasuk saat berhubungan seksual. Aku sekarang dekat dengan seorang cewek teman sekantor.
Bersamanya aku menikmati rasa sayang dan ada kenikmatan saat bercinta yang berbeda dan lebih dari yang sudah-sudah. Apakah menjadi lesbian tidak berisiko, Dok?” (Debby, Bekasi, 23th)
Jawab: Seseorang disebut berorientasi seksual homoseksual kalau hanya tertarik dan terangsang terhadap sesama jenis kelaminnya dan malah kurang tertarik dan tidak terangsang terhadap lawan jenis.
Akibatnya, tidak tertarik untuk melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Pada pelaku yang sesama perempuan, lebih dikenal dengan istilah lesbian.
Cinta sejenis seperti ini, sesungguhnya adalah lebih ke permasalahan pilihan hidup atau orientasi. Hanya saja, pelakunya sering kali merasa tidak berani terbuka dan kadang tidak nyaman karena menjadi berbeda dengan orang banyak.
Akan terlihat menjadi aneh dan dicap mengalami kelainan oleh masyarakat banyak jika ketahuan, sehingga lebih banyak yang menyembunyikan orientasi seksualnya ini. Keinginan itu dapat hilang sama sekali atau tidak, sangat tergantung kepada apa penyebabnya tadi.
Apakah cinta sejenis ini berisiko? Sesungguhnya risikonya sama saja dengan hubungan cinta yang biasa, akan dapat muncul problem psikis dan emosional dari hubungan ini dan risiko medis seperti infeksi ringan hingga infeksi menular, jika dilakukan berganti pasangan.
Pasangan lesbian biasanya melakukan hubungan seksual dengan melakukan oral seks dan petting (menggesek-gesekkan kelamin atau bercumbu berat). Jangan salah, oral seks dan petting juga bisa memunculkan luka lecet atau mikrolesi yang menjadi jalan masuk virus, jamur maupun bakteri yang diidap oleh salah satu pihak diantaranya.
Lalu, jika ada yang berniat buat meninggalkan aktivitas cinta sejenis, apa bisa? Kalau penyebabnya "hanya" karena pengaruh lingkungan, keadaan ini dapat diatasi. Selama ada kemauan kuat, pengaruh lingkungan juga bisa dikendalikan dan tetap berupaya mengontrol keinginan untuk konsisten tidak mencoba hubungan dengan sesama jenis.
Sebaliknya, jika seandainya ingin dilanjutkan, apa bisa? Bisa saja, selama lingkungan sekitarnya tidak mempermasalahkan dan pelakunya tidak merugikan pihak lain. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang bisa tetap toleransi dan lebih menerima perilaku homoseksual.
Seorang lesbian, tetap bisa sukses di profesi masing-masing yang digelutinya. Ada yang menjadi seniman, penyiar televisi, pengusaha, ataupun pekerjaan sukses lainnya.
Bahkan di banyak negara saat ini ada kecenderungan perilaku homoseksual sudah bukan lagi sebuah aib, sebaliknya banyak yang kemudian muncul sebuah trend, akibat banyaknya artis yang secara eksplisist menunjukkan kehomoseksualan mereka.
Karena cinta sejenis sesungguhnya lebih tepat adalah sebuah pilihan. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya. It`s your choice.
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5893 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4618 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2590 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2232 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2207 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan